Rabu, 02 September 2015

[Adab Bergaul] Untaian Mutiara Kalam Habib Abdullah Al Haddad

Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya. 


Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan mereka. Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat. 

(MAKAM AL IMAM ABDULLAH AL HADDAD)


Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Alloh yang sholeh. 

Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.

Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Alloh dan cukuplah Alloh sebagai pembelamu terhadapnya.

Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, terjemahan dari Al-Washoyah An-Naafi'ah, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Alhaddad


(SUMBER)

Rutinan Istiqomah


Minggu, 09 Agustus 2015

Struktur Pengurus Majelis Tahun 2015

STRUKTUR PENGURUS MAJELIS 169 AL-KHAERAT



Kegiatan Majelis 169 Al-Khaerat

Agenda kegiatan Majelis Ta`lim, Dzikir dan Shalawat 169 Al-Khaerat meliputi :
1.         Kegiatan Rutinan
a.       Rutinan Ratib Al-Haddad
Rutinan Ratib Al-Haddad berlangsung setiap malam Jum`ah kecuali malam Jumat legi. Rutinan ini berlangsung di Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY. Dimualai dengan sholat Isya` berjamaah, sholat Tasbih, dan pembacaan Ratib Al-Haddad. Jamaah yang biasa menghadiri rutinan ini sebanyak 40 jamaah.
Ratib Al-Haddad adalah amalan doa dan dzikir yang dihimpun oleh penulis Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ratib al-Haddad juga disebut Ratib Al-Syahir (Ratib yang termashur) disusun pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah. Setiap ayat, doa, dan nama Allah SWT yang disebut dalam Ratib bersumber dari Al-Qur`an dan Hadith Rasulullah SAW. (sumber: Alhawi.net)
b.      Rutinan Maulid Al-Barzanji

Rutinan ini berlangsung setiap minggu terakhir diakhir bulan, bertempat di rumah salah satu jamaah di belakang Samsat Sleman desa Krapyak, Triharjo, Sleman, DIY. Pembacaan kitab Maulid dimulai ba`da Isya` diiringi oleh hadrah dari jamaah.
c.       Rutinan Shalawat Nariyyah
Pembacaan Shalawat Nariyyah sejumlah 4444 kali diselenggarakan setiap malam Selasa minggu ke-2 dan minggu ke-4. Rutinan bertempat di rumah salah satu jamaah di samping Polres Sleman. Pembacaan dimulai ba`da isya`.
2.         Kegiatan Tambahan
a.       Ziarah Wali Auliya’ Yogyakarta dan sekitarnya

Ziarah wali adalah salah satu agenda tahunan Majelis 169 Al-Khaerat. Tujuannya adalah mengenal lebih jauh siapa dan peran para waliyaallah yang ada di tanah Yogyakarta. tidak hanya yang berada di daerah Yogya saja namun sekitarnya sepeti Magelang, Gunung Pring, Klaten, Bayat, dan Solo.
b.      Maulid Simtuddurar (Habib Anis Al-Habsyi) di Solo
Rutinan Malam Jum`ah Legi dengan mengikuti kegiatan Maulid Simtuddurar di Masjid Riyadh Solo (Habib Anis Al-Habsyi). Mauilid berlangsung selepas Sholat Magrib. Jamaah yang ikut rutinan ini biasanya berangkat rombongan dari Jogja berangkat pada pukul 14.00 menuju kota Solo.
c.       Maulid Al-Burdah (Salatiga)

Agenda tahunan ini rutin setiap tahun dua kali. Jamaah berangkat rombongan dari Yogyakarta menuju Salatiga di Pondok Pesantren Kramat Kasongo Salatiga diamana tempat Maulid Al-Burdah ini berlangsung.
d.      Bakti Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial maka perlu ditingkatkan rasa kepedulian Jamaah dengan masyarakat sosial disekitarnya. Maka agenda bakti sosial ini dijadikan agenda Majelis 169 Al-Khaerat untuk memupuk rasa tersebut. Syukur-syukur nanti kedepannya jamaah aktif dalam berkurban di hari raya Idul Adha.

Profil Majelis 169 Al-Khaerat

Majelis 169 Al-Khaerat merupakan wadah perkumpulan bagi para pemuda yang berlokasi di Yogyakarta. Pada awal terbentuknya merupakan sebuah komunitas yang sebagian besar adalah pelajar yang ingin memantapkan hati untuk menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA pada tahun 2010. Berawal dari kekhawatiran penggagas komunitas ini untuk menghadapi Ujian Nasional SMA maka seiring berjalannya waktu semakin banyak anggota yang ikut dalam kegiatan komunitas. Mujahadahan adalah kegiatan pertama yang diselengarakan bertempat di rumah salah satu anggota. Pada awalnya komunitas ini hanyalah perkumpulan mujahadahan biasa yang semakin ramai ketika menjelang hari-H Ujian Nasional. Bahkan pada waktu itu rumah yang digunakan sebagai tampat Mujahadahan tidak muat menampung para jamaah sehingga berdesak-desakan antar jamaah.
Setelah Ujian Nasional tidak membuat antusias para jamaah berkurang untuk bermujahadah. Akan tetapi, justru intensitas mujahadah diperbanyak dengan menambah agenda daripada komunitas ini salah satunya yaitu ziarah wali yang berada di Yogyakarta. Agenda yang lain yaitu rutinan Ratib Al-Haddad serta muhasabah. Hal tersebut yang membuat jamaah tertarik untuk setia mengikuti setiap agenda komunitas tersebut.
Seiring berjalannya, dibentuklah kepengurusan komunitas dengan maksud untuk menjaga agar agenda-agenda komunitas dapat berjalan dengan baik. Selain itu anggota komunitas tidak hanya sebagai jamaah mujahadahan saja tetapi juga berperan dalam musyawarah mufakat. Sehingga pada suatu waktu komunitas ini memiliki nama Komunitas 169 Al-Khaerat. Komunitas 169 Al-Khaerat mempuyai makna yaitu perkumpulan pemuda yang didasari dari tujuan kesamaan kesatuan prinsip yakni meng-Esakan Tuhan YME, hal tersebut didasari dari Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas yang kemudian dilambangkan dengan angka 1 (satu). Selanjutnya keberadaan angka 6 (enam) mengandung arti bahwa semua pada awalnya dalam kondisi yang berada dibawah baik dari segi ahlak maupun ilmu sesuai dengan gambaran kepala angka 6 yang berada dibawah. Setelah berkumpul dan mengesakan nama Tuhan dalam perkumpulan ini, diharapkan semuanya akan terangkat derajatnya baik disisi Allah SWT (spiritual) maupun manusia dan mahluk (sosial), dalam hal ini diwujudkan melalui lambing angka 9 (Sembilan) yang kepalanya berada di atas.
Empat tahun komunitas ini berdiri dan berjalan dengan agenda-agenda kegiatan utamanya mujahadahan dan Rutinan Ratib Al-Haddad. Selama itu pula komunitas ini akhirnya berganti menjadi Majelis melalui kesepakatan bersama pengurus dan anggota. Sehingga berubah menjadi Majelis 169 Al-Khaerat, atau Majelis Ta`lim, Dzikir, dan Shalawat 169 Al-Khaerat.
Sebagian besar bahkan hampir semua jamaahnya adalah para pemuda. Hal ini sangat jarang terjadi saat ini dimana kekhawatiran pergaulan bebas dan gaya hidup mempengaruhi para pemuda saat ini. Oleh sebab itu, salah satu tujuan adanya majelis ini adalah tempat/wadah untuk para pemuda mencari jati dirinya. Khususnya tentang keagamaan melalui berbagai agenda-agenda Majelis yang ditanamkan kepada para jamaah untuk mengenal lebih dekat Tuhan dan RasulNya melalui amalan-amalan para ulama dan habaib yang bersumber dari guru-guru beliau yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW.

Tahun ke-5 berjalannya Majelis membuat semangat pengurus untuk menyemarakkan lagi agenda-agenda khususnya mujahadahan rutinan Ratib Al-Haddad dengan dibentuk tambahan Hadrah. Tujuannya yaitu biar jamaah tidak jenuh dan lebih semangat lagi. Ditambah lagi peralatan sound system yang diperlukan untuk keberlangsungan Mujahadahan setiap agenda-agenda Majelis. Sehingga hal tersebut yang menginisiatif perngurus untuk mengadakan peralatan perlengkapan majelis seperti sound, karpet dan peralatan hadrah.

Logo Baru 169