Kamis, 10 September 2015
Jumat, 04 September 2015
Rabu, 02 September 2015
[Adab Bergaul] Untaian Mutiara Kalam Habib Abdullah Al Haddad
Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya.
Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan mereka. Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat.
(MAKAM AL IMAM ABDULLAH AL HADDAD)
Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Alloh yang sholeh.
Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.
Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Alloh dan cukuplah Alloh sebagai pembelamu terhadapnya.
Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, terjemahan dari Al-Washoyah An-Naafi'ah, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Alhaddad
(SUMBER)
Minggu, 30 Agustus 2015
Rutinan Ratib Al-Haddad
Rutinan Ratib Al Haddad 28 September 2013
Rutinan Ratib Al Haddad 10 Oktober 2013
Minggu, 09 Agustus 2015
Kegiatan Majelis 169 Al-Khaerat
Agenda kegiatan Majelis Ta`lim, Dzikir dan
Shalawat 169 Al-Khaerat meliputi :
1.
2.
3.
4.
1.
Kegiatan Rutinan
a.
Rutinan Ratib Al-Haddad
Rutinan
Ratib Al-Haddad berlangsung setiap malam Jum`ah kecuali malam Jumat legi.
Rutinan ini berlangsung di Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY.
Dimualai dengan sholat Isya` berjamaah, sholat Tasbih, dan pembacaan Ratib
Al-Haddad. Jamaah yang biasa menghadiri rutinan ini sebanyak 40 jamaah.
Ratib
Al-Haddad adalah amalan doa dan dzikir yang dihimpun oleh penulis Al-Imam
Al-Qutub Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ratib al-Haddad juga disebut Ratib
Al-Syahir (Ratib yang termashur) disusun pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan
1071 Hijriyah. Setiap ayat, doa, dan nama Allah SWT yang disebut dalam Ratib
bersumber dari Al-Qur`an dan Hadith Rasulullah SAW. (sumber: Alhawi.net)
b.
Rutinan Maulid Al-Barzanji
Rutinan
ini berlangsung setiap minggu terakhir diakhir bulan, bertempat di rumah salah
satu jamaah di belakang Samsat Sleman desa Krapyak, Triharjo, Sleman, DIY.
Pembacaan kitab Maulid dimulai ba`da Isya` diiringi oleh hadrah dari jamaah.
c.
Rutinan Shalawat Nariyyah
Pembacaan
Shalawat Nariyyah sejumlah 4444 kali diselenggarakan setiap malam Selasa minggu
ke-2 dan minggu ke-4. Rutinan bertempat di rumah salah satu jamaah di samping
Polres Sleman. Pembacaan dimulai ba`da isya`.
2.
Kegiatan Tambahan
a.
Ziarah Wali Auliya’ Yogyakarta dan
sekitarnya
Ziarah
wali adalah salah satu agenda tahunan Majelis 169 Al-Khaerat. Tujuannya adalah
mengenal lebih jauh siapa dan peran para waliyaallah yang ada di tanah
Yogyakarta. tidak hanya yang berada di daerah Yogya saja namun sekitarnya
sepeti Magelang, Gunung Pring, Klaten, Bayat, dan Solo.
b.
Maulid Simtuddurar (Habib Anis Al-Habsyi) di Solo
Rutinan Malam Jum`ah Legi dengan mengikuti
kegiatan Maulid Simtuddurar di Masjid Riyadh Solo (Habib Anis Al-Habsyi).
Mauilid berlangsung selepas Sholat Magrib. Jamaah yang ikut rutinan ini
biasanya berangkat rombongan dari Jogja berangkat pada pukul 14.00 menuju kota
Solo.
c. Maulid Al-Burdah (Salatiga)
Agenda tahunan ini rutin setiap tahun dua kali.
Jamaah berangkat rombongan dari Yogyakarta menuju Salatiga di Pondok Pesantren
Kramat Kasongo Salatiga diamana tempat Maulid Al-Burdah ini berlangsung.
d. Bakti Sosial
Manusia
sebagai makhluk sosial maka perlu ditingkatkan rasa kepedulian Jamaah dengan
masyarakat sosial disekitarnya. Maka agenda bakti sosial ini dijadikan agenda
Majelis 169 Al-Khaerat untuk memupuk rasa tersebut. Syukur-syukur nanti
kedepannya jamaah aktif dalam berkurban di hari raya Idul Adha.
Profil Majelis 169 Al-Khaerat
Majelis
169 Al-Khaerat merupakan wadah perkumpulan bagi para pemuda yang berlokasi di
Yogyakarta. Pada awal terbentuknya merupakan sebuah komunitas yang sebagian
besar adalah pelajar yang ingin memantapkan hati untuk menghadapi Ujian
Nasional tingkat SMA pada tahun 2010. Berawal dari kekhawatiran penggagas
komunitas ini untuk menghadapi Ujian Nasional SMA maka seiring berjalannya
waktu semakin banyak anggota yang ikut dalam kegiatan komunitas. Mujahadahan
adalah kegiatan pertama yang diselengarakan bertempat di rumah salah satu
anggota. Pada awalnya komunitas ini hanyalah perkumpulan mujahadahan biasa yang
semakin ramai ketika menjelang hari-H Ujian Nasional. Bahkan pada waktu itu
rumah yang digunakan sebagai tampat Mujahadahan tidak muat menampung para
jamaah sehingga berdesak-desakan antar jamaah.
Setelah
Ujian Nasional tidak membuat antusias para jamaah berkurang untuk bermujahadah.
Akan tetapi, justru intensitas mujahadah diperbanyak dengan menambah agenda
daripada komunitas ini salah satunya yaitu ziarah wali yang berada di
Yogyakarta. Agenda yang lain yaitu rutinan Ratib Al-Haddad serta muhasabah. Hal
tersebut yang membuat jamaah tertarik untuk setia mengikuti setiap agenda
komunitas tersebut.
Seiring
berjalannya, dibentuklah kepengurusan komunitas dengan maksud untuk menjaga
agar agenda-agenda komunitas dapat berjalan dengan baik. Selain itu anggota
komunitas tidak hanya sebagai jamaah mujahadahan saja tetapi juga berperan
dalam musyawarah mufakat. Sehingga pada suatu waktu komunitas ini memiliki nama
Komunitas 169 Al-Khaerat. Komunitas 169 Al-Khaerat mempuyai makna yaitu
perkumpulan pemuda yang didasari dari tujuan kesamaan kesatuan prinsip yakni
meng-Esakan Tuhan YME, hal tersebut didasari dari Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas yang
kemudian dilambangkan dengan angka 1 (satu). Selanjutnya keberadaan angka 6 (enam)
mengandung arti bahwa semua pada awalnya dalam kondisi yang berada dibawah baik
dari segi ahlak maupun ilmu sesuai dengan gambaran kepala angka 6 yang berada
dibawah. Setelah berkumpul dan mengesakan nama Tuhan dalam perkumpulan ini, diharapkan
semuanya akan terangkat derajatnya baik disisi Allah SWT (spiritual) maupun manusia
dan mahluk (sosial), dalam hal ini diwujudkan melalui lambing angka 9
(Sembilan) yang kepalanya berada di atas.
Empat
tahun komunitas ini berdiri dan berjalan dengan agenda-agenda kegiatan utamanya
mujahadahan dan Rutinan Ratib Al-Haddad. Selama itu pula komunitas ini akhirnya
berganti menjadi Majelis melalui kesepakatan bersama pengurus dan anggota.
Sehingga berubah menjadi Majelis 169 Al-Khaerat, atau Majelis Ta`lim, Dzikir,
dan Shalawat 169 Al-Khaerat.
Sebagian
besar bahkan hampir semua jamaahnya adalah para pemuda. Hal ini sangat jarang
terjadi saat ini dimana kekhawatiran pergaulan bebas dan gaya hidup
mempengaruhi para pemuda saat ini. Oleh sebab itu, salah satu tujuan adanya
majelis ini adalah tempat/wadah untuk para pemuda mencari jati dirinya.
Khususnya tentang keagamaan melalui berbagai agenda-agenda Majelis yang
ditanamkan kepada para jamaah untuk mengenal lebih dekat Tuhan dan RasulNya
melalui amalan-amalan para ulama dan habaib yang bersumber dari guru-guru
beliau yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW.
Tahun
ke-5 berjalannya Majelis membuat semangat pengurus untuk menyemarakkan lagi
agenda-agenda khususnya mujahadahan rutinan Ratib Al-Haddad dengan dibentuk
tambahan Hadrah. Tujuannya yaitu biar jamaah tidak jenuh dan lebih semangat
lagi. Ditambah lagi peralatan sound system yang diperlukan untuk
keberlangsungan Mujahadahan setiap agenda-agenda Majelis. Sehingga hal tersebut
yang menginisiatif perngurus untuk mengadakan peralatan perlengkapan majelis
seperti sound, karpet dan peralatan hadrah.
Langganan:
Postingan (Atom)












